MahaDasha Bantu Warga Bogor Buka Akses Air Bersih Dan Sanitasi

08 Dec 2017


Beritasatu.com. Bogor – PT Mahadana Dasha Utama (MahaDasha) dengan menggandeng Dompet Dhuafa membuka akses terhadap air bersih dan sanitasi yang sehat bagi ratusan warga di Desa Cijayanti, Kabupaten Bogor melalui program “Air Untuk Kehidupan” dengan membangun enam buah manci cuci kakus (MCK), tandon air dan pipanisasi di area publik desa tersebut.

“Program “Air Untuk Kehidupan” merupakan kontribusi MahaDasha guna mendukung Sustainable Development Goals di Indonesia, khususnya pada aspek manajemen air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan yang memadai dan merata untuk semua,” kata Presiden Direktur MahaDasha, Mivida Hamami saat meninjau pembangunan sanitasi di Sentul, Bogor, Kamis (7/12).


Hingga hari ini, kata dia, program Air Untuk Kehidupan telah melibatkan lebih dari 300 karyawan Grup MahaDasha, sebagai anak perusahaan Grup Tiara Marga Trakindo (TMT) yang berfokus pada pengelolaan beragam portofolio bisnis. Program ini kata dia, juga mengakhiri krisis air bersih dan sanitasi buruk bagi 1.300-an warga di Bogor, Bekasi dan Banten. “Sejak dimulai tahun 2015, ini merupakan program ketiga setelah sebelumnya dilakukan di Bekasi dan Banten,” kata dia.

Mivida menjelaskan sebagai bagian komitmen tanggung jawab sosial, MahaDasha bertekad berkontribusi dalam pembangunan kesehatan dasar bagi masyarakat dan mengajak karyawan ikut ambil bagian. “Akses terhadap air bersih dan sanitasi yang sehat merupakan prasyarat dasar pembangunan dan pengembangan masyarakat. MahaDasha mengajak seluruh karyawan terjun langsung dalam program ini,” kata dia.

Menurut Mivida, program ini menyasar tiga aspek pembangunan kesehatan yaitu kesadaran, partisipasi aktif dan perubahan perilaku hidup. “Kami berharap agar kualitas hidup masyarakat di desa Cijayanti ini akan meningkat menjadi lebih baik,” ujar Mivida.

Muhammad Gatan Rifky salah seorang warga yang mewakafkan tanahnya untuk MCK mengapresiasi program akses air bersih ini. Kampung Pasir Karet, Desa Cijayanti yang dihuni sekitar 156 kepala keluarga sudah lama mengalami krisis kekeringan air terutama di musim kemarau. “Pada tahun 2015 yang lalu, desa kami mengalami kekeringan selama lima bulan,” kata dia.

Menurut dia, dengan sanitasi yang buruk akan memengaruhi kualitas hidup masyarakat, terutama anak-anak.

Permasalahan defisit air dan kekeringan sudah menjadi isu global. Satu dari empat orang di dunia kekurangan air minum dan satu dari tiga orang tidak mendapat sarana sanitasi yang layak. Bahkan diprediksi menjelang tahun 2025, sekitar 2,7 miliar orang atau sekitar sepertiga populasi dunia akan menghadapi kekurangan air dalam tingkat yang parah. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data yang dikutip dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia, saat ini lebih dari 3,9 juta jiwa masyarakat yang bermukim 2.726 desa di 715 kecamatan dan 105 kabupaten dan kota di Jawa dan Nusa Tenggara mengalami kekeringan.

Hingga saat ini, baru 29 persen masyarakat Indonesia yang dapat mengakses air bersih melalui perpipaan, jauh di bawah target pemerintah hingga 2019, yaitu sebesar 60 persen. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, target akses universal air minum dan sanitasi diharapkan dapat terpenuhi pada 2019. Sumber